SENI MENGALAH DAN TENANG

Sabtu 4 Desember 2020

Aku mengalah (Again).

Berdamai dengan hatiku sendiri. Bagaimana tidak, ketika otakku mengatakan sebaiknya aku melepas suamiku, dia berkata bahwasanya dia kesulitan keuangan. Aku tak tau apakah selemah itu prinsipku.

Aku sedih dengan pandangannya tentang aku.
Seolah olah aku gak peduli dengan kesulitan suami.
Padahal aku sebulan mengkalkulasi keuangan sedetail mungkin. Aku bekerja namun aku hemat kepada keluargaku. Bayangkan, aku yang bergaji lebih dari suamiku harus menjaga hatinya.

Sementara dia sangat royal pada keluarga besarnya. Om yang selalu minjam uang. Makcik yang gak bayar hutang. Sepupu yang gak tau diri minjam terus. Jujur aku sebel namun berusaha maklum. Karena apa? Aku tinggal di keluarga besarnya.

Tertekan? Pasti. Namun hati kecilku berkata sabar. Selama masih bersama harus banyak lapang dada.

Aku berjanji gak akan meminta gaji suamiku. Aku sedih diremehkan oleh suamiku. Seolah aku bersenang-senang tanpa dia. Padahal sering aku menghabiskan uang untuk mereka yang kusayang Suami dan Anakku.

Salahku apa?
Salahku adalah menyayanginya.
Sementara Dia?
Aku tidak mengenal hatinya
Betapa Dia menjadi Asing kesekian kalinya

Komentar

Postingan Populer