SELALU ADA HIKMAH

 

DODONG

Dodong anak piatu yang tinggal bersama nondongnya. Mereka tinggal di ladang Ujung Bandar, sebuah dusun nun jauh di pedalaman Sumatera Utara. Setiap hari sepulang sekolah ia membantu nondong di ladang. Mereka tinggal berdua disebuah gubuk. Dodong sekolah di SD durin tunggal. Berkilometer jaraknya dari gubuk mereka.

            Sepulang sekolah Dodong ngangon lembu milik bolang nurat yang dipercayakan kepadanya. Mamak Dodong telah meninggal saat melahirkan Dodong sepuluh tahun yang lalu. Bapaknya, kabar yang pernah didengarnya sudah pergi meninggalkannya saat ia masih dalam kandungan mamaknya. Ia jarang memikirkan apapun selain lembu-lembu yang diangonnya.           Dodong tidak memiliki banyak waktu bermain. Bahkan ia tidak memiliki teman seorangpun di ladang. Maklumlah tetangga mereka tidak ada. Jarak terdekat rumah penduduk berkilometer jauhnya.

            Dodong termasuk siswa cerdas disekolahnya. Ia belum pernah menjadi juara satu dikelas tapi tetap lima besar di kelasnya. Tapi Dodong tetap bersungguh-sungguh belajar.  Keterbatasan tidak menghalanginya terus belajar. Saat ada PR yang harus dikumpul segera, Dodong bersepeda menuju rumah bolang Nurat untuk menumpang belajar diteras yang ada lampu listriknya.

            Bolang nurat hampir setiap saat menyuruhnya belajar diruang tamu, tapi Dodong bersikukuh tetap diteras. Ia cukup tahu diri agar tidak menyusahkan bolang Nurat. Dodong sesegera mungkin menyelesaikan PR nya. Sebelum jam sembilan ia akan pulang ke gubuk yang didiaminya bersama nondongnya.

            Setiap libur Dodong membantu nondong untuk bekerja di ladang yang telah di garap mereka saat rezim Soeharto runtuh. Menurut cerita nondongnya, ladang yang mereka garap adalah lahan orangtua nondong yang diambil alih PTPN II ketika masa pemberontakan PKI. Tapi ia dan nondongnya tidak bisa berbuat apapun. Dodong hanya berdoa semoga Allah yang maha mengatur memberi kesehatan kepada nondong yang mengasuhnya sejak lahir.

            “Nondong kita jual daun ubi ya ndong, kata Ibu Guru buku yang dipinjamkan harus disampul plastik” Dodong berkata pada nondongnya.

            “Oh ya udah kalau memang wajib, ayo kita petik daun ubi didekat sumur” nondong menyahut.

            “Ndong kita jual langsung kepajak pancur batu ya ndong, biar Dodong yang ngecer. Kalau kita titip Katarina harganya lebih  murah” Dodong minta persetujuan nondongnya.

            “Tapi Dong, pajak Pancur Batukan jauh nakku. Nondong khawatir kamu kecapekan” nondong menambahi.

            “Enggak papa ndong, insyaallah aku kuat kok. Nondong jangan takut ya” Dodong meyakinkan

            Ditengah kemiskinan yang mereka alami, Dodong termasuk anak yang taat beribadah. Walaupun nondongnya tidak mengajarinya. Segala keterbatasan menempanya belajar wudhu, sholat dan do’a pendek. Ia belajar pada guru agama di sela-sela jam istirahat sekolah.

            Ketika daun ubi yang dibawa Dodong belum habis terjual, adzan Dzuhur berkumandang. Dodong meminta bibi didekatnya untuk menjaga jualannya sebentar. Di Masjid raya Pancur Batu Dodong tak lama berleha-leha ia teringat daun ubinya. Segera ia kembali ke dagangan yang digelarnya.

            Masalah yang mendera membuat Dodong kuat. Nondong yang semakin renta memaksanya membuat pilihan antara bersekolah dan berladang. Akhirnya ia memutuskan untuk berladang. Sebuah keputusan yang menyedihkan untuk anak seusianya.

            Walaupun bukan nilai tertinggi di sekolah, sebenarnya ada beberapa guru yang bersimpati dengan akhlaknya. Namun itu semua tidak cukup. Tawaran bersekolah gratis ditolaknya, karena baginya sejengkal perut yang mengasuhnya dari bayi lebih berharga dari kehidupannya sekalipun.

            Sebagai laki-laki yang bergumul dengan kehidupan sederhana, diusia ke duapuluh lima Dodong berkeinginan menikah dan memiliki keluarga. Setelah nondong meninggal dipangkuannya setahun yang lalu. Tapi satu masalah menghantuinya, siapa yamg berkenan menikahkan puterinya dengan seorang yang tidak punya apa-apa selain tanah sengketa yang dihuninya.

            Semakin hari Dodong semakin murung, sholat makin tak mendalam dijalaninya. Ia menderita dengan kesendiriannya. Hanya seminggu sekali ia bertemu dengan orang lain. Saat pekanan di hari sabtu. Tapi Dodong tetap sholat walaupun dengan setengah percaya. Selebihnya ia hanya berfikir bagaimana mendapatkan seorang wanita.

            Setelah berbulan-bulan sendiri, do’a yang dipanjatkannya terkabul. Ada seorang gadis yang sering memberi senyum saat ia berjualan dipajak. Tanpa sepatah katapun gadis itu senantiasa membeli daun ubi yang dijualnya. Gadis itu hanya membayar lalu pergi. Dodong makin rajin berdo’a semoga gadis itu jodohnya.

            “Dong, kau mau sama dia. Biar kuuruskan” bapak disebelah lapaknya menawarinya.

            “Apa mau dia sama aku pak” Dodong ragu.

            “Kita coba dulu” sang Bapak meyakinkan.

            Tak perlu waktu lama, Dodong berhasil menikah dengan gadis yang rajin memberinya senyum. Nita nama gadis pendiam yamg akhirnya diketahui namanya melalui paman gadis yatim piatu itu.

            Setelah akad nikah, Dodong berkeras membawa Nita kegubuknya. Ia cukup berterimakasih pada paman Nita yang menawarinya untuk tinggal dirumahnya untuk sementara.

            Malam pertama mereka lalui tanpa cerita. Hanya mata Dodong menyapa sang cinta. Dodong melalui harinya seperti biasa. Hanya satu hal yang berubah dari kebiasaannya. Kini ia rajin bersenandung. Setelah Nita hamil dan akan melahirkan Dodong rajin menyapa sang jabang mereka.

            Tanpa bantuan siapapun Nita melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat. Tapi Dodong tampak gelisah. Ia menangis, tangis pertama setelah nondong meninggal. Bayi laki-lakinya sunyi seperti ibunya. Ia beri nama Doni, gabungan namanya dengan istrinya.

            Kembali Dodong dalam sunyi. Ia yakin, suatu saat nanti akan ada yang mengajaknya bicara. Nyanyiannya ia simpan untuk anak yang lainnya. Karena Doni tidak akan pernah menyapanya.

            Setelah tigapuluh tahun, lahan sengketa kembali membara. Banyak preman yang meminta jatah tanah. Tak terhitung jumlah petani yang dibantai. Dodong memilih menyingkir. Ia pergi ke kota. Mengadu nasib mencari penghidupan. Selamat tinggal daun ubi. Makam nondong yang ada ditengah ladang ditinggalkan bisu. Sebisu anak dan istrinya.

            Roda Dodong macet, tanpa tau kapan akan berputar. Allah maha mencatat, itu yang senantiasa menghiburnya.

Kuala, 2 Maret 2013

Ummu Abiyyu

Komentar

Postingan Populer