BULLYING
Bagai petir di siang hari saat aku mendengar putera satu-satunya yang kumiliki dipukul kakak kelasnya. Penyebabnya karena anakku melihat Abang kelasnya tertawa bersama Ustadznya dan dia bertanya kira2 apa yang menyebabkan mereka tertawa. Ditinjunya lengan anakku dan mengatakan bahwa anakku melihat ke arah dia.
Aku benar-benar heran melihat ustadz yang didepannya malah diam saja. Bukannya menenangkan malah membiarkan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh seorang siswa kelas XII kepada anakku yang masih kelas VII. Demi Allah aku tidak akan tinggal diam.
Aku yang sangat menjaga marwah setiap individu siswa-siswiku malah mendapati kenyataan bahwa buah hati sibiran tulangku dibully disekolah yang sangat aku hormati dan kuhargai keadilannya. Pondok Pesantren. Sekolah Qur'an.
Let see what they did. Aku berharap ada permohonan maaf dari mereka.
Aku akan memaafkan tetapi aku akan membuat mereka tidak melakukan kembali hal-hal diluar nalar.
Stop Bullying. Karena perundungan adalah bentuk perilaku kaum primitif. Allah saja menjamin rezeki, dll kecuali dalam hal iman. Kenapa justru kita hamba-Nya menganggap kita lebih mulia.
Kuala 10 September 2022.
Dari aku seorang Ibu yang sedang terluka.
Komentar
Posting Komentar