KETUA
Karena hobi membaca terkadang aku dianggap lebih tau dibandingkan orang lain. Padahal intinya aku hanya lebih dulu tau. Bisa jadi dalam perjalanan waktu seseorang yang awalnya belum tau kerap menjadi pakar diwaktu lainnya.
Bercerita tentang menjadi seseorang yang dianggap lebih tak jarang aku didaulat menduduki posisi yang lebih. Contoh sebagai ketua koperasi di sebuah komunitas-komunitas yang sebenarnya banyak senior disitu. Hingga masalah terjadi diakhir kepengurusan. Saat seorang yang melebihi aku tingkat usia dan seniornya menjadi duri dalam organisasi. Sebut saja SM, adalah sekretaris di Koperasi yang kami bentuk. Dan seperti yang kukatakan diawal akulah si "Ketua" yang dianggap Ketua "Anak Bawang".
SM memiliki seorang keponakan yang diduga melakukan pelecehan terhadap Balita. Akibatnya dia dipukuli oleh Kakak kelasnya agar mengakui melecehkan balita tersebut. SM tau sebelumnya bahwa si keponakan termasuk anak yang nakal, terkadang SM bercerita keponakannya mencuri uang. Tak heran jika keponakannya menjadi tersangka dan dihakimi kawan sekolahnya yang mondok.
SM tidak terima keponakannya yang suka mencuri dihakimi oleh siswanya juga. Ia tetap beranggapan tidak mungkin keponakannya melakukan pelecehan. Padahal jelas keponakannya sering mencuri. Tapi ia abai. Adiknya yang juga Ibu dari keponakannya melaporkan kekerasan yang dilakukan oleh siswa kepada keponakannya.
Orang tua siswa berusaha damai namun keras hati SM mengabaikan segala itikad baik tersebut. Ia tetap berpihak pada adiknya dan menuntut pihak siswa yang dianggapnya menjahati keponakannya yang maling tersebut.
Akhirnya didenda mereka siswa yang menjahati keponakannya yang maling tersebut. Dapatlah mereka uang puluhan juta. Padahal si Balita yang dilecehkan menjadi korban seumur hidup traumanya.
Jika ditelusuri lebih jauh, sebenarnya balita tersebut termasuk cucu jauh dari SM. Tapi ia abai dan menganggap bahwa keponakannya tidak bersalah.
Imbasnya terhadap koperasi adalah, SM menganggap bahwa koperasi tersebut harus dilaporkan. Sementara SM yang sebelumnya adalah sekretaris dan dialihkan ke IM pilihan SM sendiri.
SM mulai arogan dan kehilangan akal sehat. Awalnya dia yang baik berubah menjelma menjadi manusia yang berorientasi uang. Ia menganggap kalau semua harus sesuai kemauannya. Sekretaris terbaru IM ketakutan dengan bahasa SM. Akupun tak luput dari lisan tajamnya.
Awalnya kita berdasarkan kekeluargaan berubah menjadi profit oriented. Dulu aku yang keberatan diangkat ketua koperasi dipojokkan SM seolah aku adalah orang yang tidak becus. Padahal ketika ia melepas jabatan sekretaris dan mengganti dengan IM dia adalah peran krusial dalam koperasi. Tak jarang ia menangani pinjaman koperasi tanpa sepengetahuanku.
Pernah suatu hari aku mengatakan sebaiknya beliau SM menjadi ketua koperasi karena aktivitas yang tinggi di Koperasi. Ia marah dan menangis. Pada akhirnya, aku menyadari betapa SM sudah menjelma menjadi makhluk egois seperti kesetanan. Kata-katanya tidak lagi menunjukkan saudara. Ketika bertelepon aku berkata, kita bicarakan baik-baik ya Bu. Dia berkata Halah, Ibukan ketua jadi harus bisa, dll, dst. Dalam hati tentu aku geram. Karena tidak ingin bertambah rumit, kudiamkan saja ocehannya. Sambil berkoordinasi dengan sekretaris baru IM. Meminta catatan dari beliau dan menanggung pengembalian bagi yang belum dibagikan. Termasuk SM yang meminta haknya. Padahal sudah dikembalikan sebelumnya. Jadi beliau double count. Daripada ribut, kuikuti permainannya. Aku sedikit kecewa pada seniorku yang lain. Mereka juga enggan bersinggungan dengan SM yang arogan dan seperti kalap. Akhirnya aku menanggung pengembalian. Tapi tidak mengapa. Bukankah selama ini akulah ketua. Ketua yang tak berdaya. Miris 😢.
Saat ini aku lebih berhati-hati dalam mengemban amanah yang kujalani. Semangat harus kusesuaikan dengan kemampuanku dalam memanage segala sesuatunya.
Jangan sampai karena lisan yang kupunya dan mahirnya aku berkata-kata menjerumuskan aku pada posisi yang jauh dari keberkahan.
Wallahu alam
SMA Negeri 1 Kuala
9 September 22
Mid Test 💪🏻🤗
Komentar
Posting Komentar