BUDAYA POSITIF

Pernahkah kalian diperlakukan seperti orang asing ditengah keluarga baru kalian?

Berbagi pengalaman tentang diri saya. Apakah saya pernah diperlakukan seperti orang asing? Bagaimana perlakuan mereka? Siapa mereka? Bagaimana sekarang? Apakah saya menaruh dendam? Bagaimana berdamai dengan keadaan?

Mari saya jelaskan kondisi menurut apa yang saya rasakan.

Pertama apa yang diperlakukan orang baru yang saya anggap keluarga. Mereka berkata kasar, seolah dianggap orang yang bertahun-tahun bersama mereka namun berkonotasi negatif. Misal. Keluarga kami benci dengan suku "Karo" (suku saya) karena suku Karo identik dengan jorok, bernilai negatif. Hey, don't judge mine. Dengan bahasa olok-olok saya terdiam. Sedih tapi berpura-pura abai.

Yang kedua, kebetulan orang baru tersebut adalah keluarga mertua yang awalnya aneh, bahkan bagi kebanyakan orang pasti tetap aneh. Tingkat keanehan hanya berusaha saya pahami tanpa menuding walaupun tetap tidak bisa dibenarkan 100% apalagi jika dipublish di society. Bisa dianggap "Mad" bagi orang normal. Lemme tell U. Kadang yang berbelanja dikedai maka sis in law berkata " jelek kali kau M(Initial), kau orang Karo ya Jorok kali Kau (what the hell), dan banyak lagi ungkapan menurut keluarga baru saya sebagai bahasa persahabatan. Padahal ketika saya melihat wajah pembeli, tidak ada sedikitpun tersenyum atau tertawa. Mereka terdiam. Saya dapat merasakannya. I feel you really 😢

Dari penjelasan sebelumnya kalian pasti tau kemana arah bahasan saya. They are my Family in law. But hey, my Hubby include in the circle. Walaupun gak 100% I know, lil bit he does.

Yes, until now. They do same thing. Mereka masih seperti diawal. Hanya persentase berkurang. Walaupun terlihat baik-baik saja. Kadang aura negatif mereka berimbas pada penolakan saya.

Saya tidak menaruh dendam apalagi kebencian. Secara sadar saya menyayangi mereka. Tapi jangan ditanya alam bawah sadar. No body know, even I. Just Allah who knows. Saya minta ya Allah berikan keikhlasan full 100%. No matter what.

Setiap detik saya berdo'a jika tanpa bantuan Allah, tentu syaitan dalam hati akan berkuasa. Namun saya yakin Allah melindungi hambaNya yaitu Saya. Saya bermohon semoga Allah memberikan ketenangan dan kesabaran seluas mungkin. Jika Allah tidak berkenan maka siapa lagi yang akan berkenan.

Benih Budaya Positif yang berusaha saya tebar tentu tidak serta merta berbuah dalam jangka waktu pendek. Ada proses penolakan namun pasti berbuah manis. Jika proses yang saya ciptakan adalah proses keikhlasan berniaga dengan Allah. Maka perniagaan yang tidak pernah rugi adalah perniagaan dengan Allah sebagai hakim sekaligus pembeli.

Lemme love my families in Law with Allah rules. Aamiin 🤲🏻🤲🏻🤲🏻

Centre City 
Sunday,  December 18, 2022.

Ummu 3A

Komentar

Postingan Populer