Mother In Law
MIL sakit. Kakinya lemah. Sudah beberapa hari ini dia di rumahku. Gak bisa jalan. Ada keengganan untuk ngobrol ngalor ngidul. Capek. Mana setiap hari ada saja yang ditanya. Komentar tentang kerjaanku. Dll. Kesabaranku menipis. Huhuhu.😭😭😭
Aku malah teringat betapa MIL tidak baik padaku dan anakku.
Aku teringat dia bilang yang penting umroh. Eh pas sakit sibuk kerumahku. Terus aku juga merasa kesal. Gak ada prolog. Datang aja. Gak prepare uang atau kebutuhan pribadinya. Kesallll.
Adik dan Kakaknya ikut juga ikut kerumah. Bawa Tupperware kerumahnya. Aku merasa MIL beban buatku dan suami. Sementara dia merasa berhak. Gile gak tuh. Kesallll. Karena saat sehatnya dia gak pernah sesayang itu sama aku. Huhuhu😭😭😭
Padahal pelitnya luar biasa. Kami pinjam kereta untuk kerja aja dighibahin. Padahal cuma sehari. Belum lagi bilang kalau sukunya lebih berharga perempuan dari laki2. Wah penjajahan apalagi ini. Kesallll 😡😡😡
Betulin kamar mandi dirumahnya. Eh pas dipasang toilet jongkok malah katanya gak mau pulang. Maunya makan tidur aja. Minta ambilin kursi roda dirumah Riki. Gak kerjaan.
Aku udah gak respek melihat MIL yang gak care pas aku sakit. Minjam uangnya malah katanya pinjam aja sama anak kesayangannya, jaminannya rumah kontrakan kami satu untuk anak kesayangannya. See I hate her ego. Fuck Mother.
Pas Babyku kecil dia cuma lihat. Jagain juga gak. Kakaknya yang jaga. Itupun tetap kukasi uang. Sampai sekarang jadi ungkitan. Cuma lihat sebentar.
Walaupun aku cerita keorang MIL ku baik. Shit. It's nay.
I hate sandwich G.
Let MIL with her problem.
I don't care.
Fuck MIL 👎🏻👎🏻👎🏻
MIL adalah orang yang berkiblat pada uang. Dari beragam egonya, aku tetap mengingat kebaikannya. Ketika aku melahirkan mungkin dia bukan orang yang menangis karena sakitku. Tapi MIL yang mencuci pakaian melahirkanku. Menyiapkan makan untukku.Ya Allah betapa berdosa aku jika melupakan kebaikan yang berusaha MIL lakukan. Walaupun banyak rasa sakit yang diberikan, ketidakadilan dan ketidaknyamanan, toh itu benih kami "aku dan suamiku" berkembang.
Jadi, jika dilihat dari kacamata kebaikan kadang rasa pahit itu mengobati. Teringat bagaimana Rasulullah berkata " Duhai Rabb, situasi mana yang harus aku syukuri. Saat sakit dimana aku bersabar atau saat sehat dimana aku bersyukur" Keduanya baik dimata Allah. Maka jangan tertipu langkah Syaitan.
Astaghfirullah.
Ampuni ya Rabb.
Komentar
Posting Komentar