GAP

Aku merasa berada di dua zona/fase yang berbeda 

Zona yang pertama rekanku sesama kepala sekolah yang berada di zona nyaman karena sudah lama menjabat.
Golongan mereka adalah golongan orang yang sudah tidak memiliki semangat perubahan. Mereka merasa kegiatan yang mereka lakukan sudah cukup. Suap sana suap sini. Peningkatan diri hanya ilusi. Hahaha miris tentunya ya. Inilah birokrasi yang dipaksa untuk setia padahal sejatinya sedang dikorbankan oleh penguasa.

Zona yang kedua adalah rekan guru yang menuntut seribu idealisme yang diyakini. Mereka tidak berhadapan dengan birokrasi yang luar biasa rumit dan menjebak. Mereka menekan mentalku sebagai Kepala Sekolah baru. Harapan mereka aku bisa menjadi pahlawan yang memberantas sistem yang tidak baik. Tapi apakah budaya positif sudah dan sedang dijalani? Tentu masih banyak yang diperbaiki. Anggapan perubahan kurikulum hanya kedok tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Karena tidak secepat itu seseorang bisa berubah. Apalagi tanpa keikutsertaan mereka didalamnya.

Hal baik apa yang dapat ku perbuat?
Pertama: Mengakui kelemahan sebagai hamba. Terus belajar dan bersandar pada kekuatan yang maha tentu menenangkan.
Kedua: Ambil setiap kesempatan baik, tingkatkan kapasitas diri. Asah skill, baik itu Hard skill or Soft skill.
Ketiga: Buang rasa ragu, lemah jiwa, dan cemas berlebihan.

Komentar

Postingan Populer