Sepotong Kapas

 Beberapa hari yang lalu aku mengikuti sebuah pelatihan. Dan aku ditempatkan disebuah kamar bersama orang yang tidak terlalu dekat denganku. Orangnya ramah dan love bombing diawal. Dalam artian sangat perhatian terhadap orang disekitarnya. Namun ada yang kurang sreg kurasakan. Ketika dia meminta kapas dan kebetulan aku hanya membawa secukupnya kapas pembersih wajah untuk aplikasi tonerku.

Ternyata alasanku tidak terlalu dekat dengannya saat satu instansi pekerjaan adalah karena dia orang yang pemaksa dan tidak menghargai privasi orang lain. Aku mulai lupa apa penyebab aku kecewa padanya di masa lalu.

Ternyata aku memiliki kisah kelam terkait pekerjaan dengannya. Dia pernah berkhianat padaku terkait pekerjaan. Dan entah karena trauma atau yang lainnya. Aku Denial terhadap perilaku buruknya. Aku melupakan saat sakitnya dikhianati olehnya.

Aku bertanya di dalam jiwaku. Apa yang kurasakan saat ini. Apakah aku kehilangan nurani karena jabatan.

Bisakah aku mendapatkan nuraniku kembali. Karena terlalu perih intrik yang ada di jabatan yang ku emban saat ini.

Ya ternyata aku mendapatkan sedikit pencerahan dari apa yang terjadi. Aku nyaman dan terlalu takut untuk berbeda. Aku menghindari konflik dan memendam segala kecewa. Pada akhirnya ada saatnya aku memberontak dan terkadang menyesalinya.

Orang diluar sana berkata "lawan saja tekanan yang kau rasakan". Sementara mereka tidak ikut berjuang membereskan ketuntasan tanggung jawab pekerjaannya. Miris memang. Jika tidak bersandar pada kekuatan yang Maha ternyata aku lemah. Sangat amat lemah.

Hehehe terimakasih ya Allah. Aku tanpamu hilang arah.

Kupeluk diriku saat tidak ada yang memelukku. Dekapan hangat dan tanpa marah hanya ku persembahkan untuk diriku. Terimakasih atas tegaknya mental yang ku punya.

Ana uhibbuki ana lillah.

Selamatkan diriku ya Allah.

Komentar

Postingan Populer