In the name of Allah
Bertahun lalu
Aku adalah seorang pencaci maki terhadap pemerintah yang kuanggap banyak cacat cela dan lainnya.
Saat ini
Sama
Aku masih seorang pencela sejati
Saat Titi sebelum sekolahku ambruk aku menuding Camat dan DPR tidak peduli dan malah memprovokasi orang yang kutemui dengan bahasa yang jika kutelaah tentu menyimpang dari kebaikan bertutur lisan.
Aku adalah Da'i sebelum apapun.
Tentu ini bukan pepesan kosong. Terbukti. Saat berusaha menjauh dari aturan Allah. Selalu saja Allah menegur lembut hati dan lakuku.
Aku lebih menyesali banyaknya tutur lisanku yang tidak terjaga dibanding diamku yang dianggap orang bodoh.
Tentu keduanya tidak kusuka. Tapi aku lebih menyesali hal pertama. Syahwatul Kalam.
Ketika lisan mencela maka solusi akan tertutup. Ada hal yang seharusnya aku dapat solusikan saat menghadapi masalah titi yang rubuh. Namun luput karena tidak ada hikmah dihati.
Pertama: meminta dukungan terhadap Kak Ema sebagai Anggota DPR di Tingkat 1.
Kedua : Meminta perhatian dari Bu Sri Bana sebagai Ketua DPRD Kabupaten Langkat
Ketiga: Bersilaturahmi dengan Ketua ALPPIND Sumatera Utara.
Keempat: Silaturahmi dengan Kadis Pendidikan Pak Haris Lubis (Alexander Sinulingga)
Bismillah ya Allah. Semoga ada jalan. Tak perlu berlari mengejar tujuan. Karena hidup adalah perjalanan bukan pelarian.
Semangat
No Hate Speech Anymore.
Bismillah.
Komentar
Posting Komentar