Rambut Hitam (Kumcer tentang cinta yang tak terbalas)
Jalan Yang Terkhianati
Sekitar tahun 1970an
Pagi ini diawali dengan gerimis. Suasana tenang mengundang untuk beranjak kembali ke peraduan. Namun dengan penuh semangat seorang lelaki paruh baya, Sumanto pergi menuju jalan desa. Rencananya hari ini menurut petunjuk Kepala Desa warga akan bergotong royong membangun jalan desa yang berlumpur. Agar anak-anak didesa dapat pergi ke sekolah dengan bahagia dan tanpa takut becek.
Tahun 2025
Masyarakat berbondong-bondong menuju kantor DPRD akan melakukan demonstrasi terhadap kinerja Anggota DPRD. Karena jalan mereka sudah puluhan tahun tidak terperhatikan. Jalan yang dibangun secara manual puluhan tahun lalu hanya pernah diberi "Ter/aspal" tipis diakhir tahun 1990an.
Sebutan Kepala Desa beralih menjadi Lurah sejak menjadi kota kecamatan. Namun akses jalan semakin buruk. Anak tiri di kecamatan tetap tersemat karena dana pemeliharaan tidak ada menuju akses pendidikan.
Bagaimana menjadi sekolah ramah anak jika jalan saja penuh kubangan lumpur. Belum lagi jembatan kecil menuju sekolah, yang juga menjadi jalur air agar sekolah tidak kebanjiran terputus.
Jika saja dapat menyulap tentu aku memilih untuk tidak bertugas disekolah tersebut awalnya. Namun seiring waktu, jiwaku menikmati segala tantangan yang ada. Aku ingin memperjuangkan apa yang tidak didapati anak2 disitu. Wajah yang seolah garang namun aku menyayangi mereka. Aku menyukai keberanian mereka atas hak yang tidak mereka dapat selama ini. Aku menyukai saat dimana orang tua siswa bertanya aktif tentang pengelolaan dana BOS. Sekali lagi mereka adalah kontrol menuju kebaikan bersama. Ana uhibbuka anta lillah.
Bagaimana hari ini
Pertengahan April
Para Juru Warta yang bermodal bensin dan UKOM yang mereka miliki tidak lagi punya nurani.
Mereka beranggapan dana BOS adalah Bancakan yang menjadi konsumsi bersama. Mereka tidak lagi independen dan sesuka hati menekan para Guru yang mendapat amanah sebagai Kepala Sekolah.
Miris. Mereka berkoar-koar di media baik Online atau Offline yang minim pembaca. Mereka mengirim berita kepada sesama Kepala Sekolah yang akhirnya diuji dengan ujian yang sama. Mereka mengirim kepada keluarga yang tidak tau apa-apa. Menjadi aib di keluarga. Menjadi fitnah yang tidak berujung. Ditambah keluarga yang masih hidup ditengah prasangka baik terhadap media yang saat ini menjadi ajang fitnah. Sungguh Sebagian LSM dan Wartawan hari ini lebih banyak Bodrex. Yang diberi 50 ribu diam. Yang tidak sportif dalam profesi mereka.
Perubahan itu nyata dan terasa menyakitkan.
Opini tentang Kepala Sekolah Korupsi menjadi dua sisi yang Allah siapkan
1. Kepala Sekolah berdedikasi tanpa strategi akan tersingkir karena tidak mendapat akses informasi. Dianggap tidak bekerja sama dengan pemangku kebijakan yang perlu minum teh (pabrik teh).
2. Kepala Sekolah yang menolak bekerja sama menyisihkan sebagian rezeki (korupsi )menjadi bulan-bulanan APH, LSM, Wartawan, Dinas Terkait.
3. Tidak adanya kejelasan tunjangan atas tugas tambahan sebagai kepala sekolah menjadi landasan Kepala Sekolah mengambil sebagian dana BOS terkait merasa berhak mereka.
4. Merasa cukup dan duduk sama rendah berdiri sama tinggi belum ada di Bangsa ini.
Komentar
Posting Komentar