HARGA DIRI IDENTITAS DIRI

Belasan tahun ternyata ngambek, marah, kesal, cemburu dan segera yang kulakukan karena cinta dan sayangku kepada suamiku hanyalah duri, onak, bencana, kegelisahan dan keburukan bagi suamiku.

Aku sebenarnya menyadari bahwasanya penolakan atas ciuman bibirku, pelukanku, manjaku bukan sesuatu yang mengganggunya.  Hanya saja ketika hal itu aku yang melakukannya maka akan menjadi bencana dan penolakan yang terlihat jelas dari tepisan dan putaran serta gelengan kepala.

Seringkali aku pura2 abai. Tapi sungguh kepura-puraanku hanya menambah sedih hatiku.

Berjuta kali aku berpikir untuk meninggalkan suami yang tidak peduli padaku. Namun aku masih mencari-cari alasan kuat agar aku tak menyesal saat keputusan itu kuambil.

Silent treatment dia, yang kuanggap lucu sebenarnya menyakiti hati dan perasaanku.

Otakku terkadang membelanya. Menganggap ketidak peduliannya berasal dari tidak adanya figur keluarga dibenaknya. Ayah ibunya berpisah saat dia masih kecil.

Tapi ketika melihat interaksinya dengan lawan jenis. Baik di kantor atau lingkungan sekitar dia berlaku layaknya orang normal. Artinya dia bisa memperlakukan orang lain dengan baik. Hanya aku yang menjadi beban mental yang sedang dibenci dan bebas diperlakukan sesuai dengan dendamnya.

Duh berat ya jadi aku. Aku yang sedari kecil harus menyayangi orang sekitarku. Tumbuh dengan rasa lapang dada terhadap perilaku negatif keluargaku. Dirumah tangga yang kuidamkan pun aku berhati2 agar disukai.

Padahal aku orang yang takut disakiti. Tapi dalam setiap hubungan memang aku yang selalu mengalah. Agar segala sesuatu tampak baik dan normal.


Agar periuk dan perut orang disekitar aman dan kenyang. Aku abaikan rasa kosong dihatiku. Aku berusaha tersenyum disaat yang sama dengan penolakan demi penolakan yang dilakukan suamiku.

Hadirku tidak diharapkan? Lantas kenapa aku harus memaksakan mauku. Mauku adalah bersama hingga bertemu anak2 Syurgaku.

Bertahan adalah pilihan menyakitkan baginya dan bagiku.

Ambil sikap tanpa perlu marah. Bahagiamu tanggung jawabmu bukan aku. Demikian pula aku. Akan kucari bahagia yang tidak menyakitimu.

Cerai Juliana Tarigan dengan Arafat Abdynata.

Komentar

Postingan Populer